Selasa, 24 April 2012

Cara mengatasi masalah Psikologi dalam perkawinan


Cara mengatasi masalah Psikologi dalam perkawinan

I.Masalah
Sebagaimana kita ketahui, sebelum memasuki jenjang pernikahan, setiap orang pasti telah mempunyai kesalahan pribadi masing-masing sebelumnya, tetapi setelah mereka hidup bersama dalam sebuah keluarga kesalahan dari masing-masing pihak nantinya akan menimbulkan pertengkaran. Oleh sebab itu, jika tidak berpedoman pada Dhamma, yang terdiri dari sacca, dama, khanti dan caga, maka keluarga tersebut harus sanggup menerima 4 masalah besar yang pasti akan terjadi, diantaranya :
  • Masalah Kecurigaan
  • Masalah Kebodohan
  • Masalah Kebosanan terhadap sesama
  • Masalah Keegoisan
adalah sangat baik jika tidak membiarkan 4 masalah besar ini hadir dalam keluarga. Namun jika suatu saat benar-benar terjadi, maka segeralah saling membantu untuk menyelesaikannya, jangan dibiarkan bertumpuk-tumpuk menjadi sebuah masalah besar. Ke-4 masalah besar ini merupakan akar dari berbagai masalah yang akan selalu muncul dan tidak akan pernah ada akhirnya.
II.Cara mengatasi
1. Masalah kecurigaan : tidak saling mempercayai sesama, saling mencurigai
Di dunia sekarang ini, meskipun dalam satu keluarga masih saja sering timbul satu penyakit yang dikenal dengan Penyakit kecurigaan. Perasaan curiga ini tidak hanya muncul dan berkembang pada sepasang suami istri ataupun pada hubungan kakak beradik, tetapi juga dapat timbul diantara orang tua dengan anak. Oleh karena itu, selayaknya tidaklah perlu membicarakan orang lain yang bukan termasuk hubungan sedarah dan bukan keluarga sendiri agar dapat terhindar dari masalah kecurigaan ini.
Pada dasarnya, beberapa penyebab timbulnya kecurigaan adalah karena adanya kecemburuan, ketidakseimbangan, pemaksaan kehendak oleh salah satu pihak, pengambilan keuntungan, dan yang paling buruk adalah kecurigaan yang disebabkan dari tidak adanya rasa tanggung jawab. Namun, apapun penyebabnya, hal yang akan terjadi adalah semakin lama tinggal bersama, akan semakin bertambah pula kecurigaan yang akan muncul.
Untuk mengatasi masalah kecurigaan di atas sifat tanggung jawab dari setiap orang merupakan hal yang sangat penting pada tingkat pertama, karena tanpa adanya tanggung jawab, kecurigaan antar sesama akan segera muncul bersamaan. Oleh karena itu, kekokohan keluarga akan tercipta apabila seluruh anggota keluarganya memiliki sifat tanggung jawab sebagai landasan perilaku yang Pertama.
2. Masalah kebodohan : tidak dapat mengikuti perkembangan jaman
Masalah ini disebabkan oleh faktor kepandaian, pengetahuan dan kemampuan yang tidak sebanding atau dapat disebut juga dengan Penyakit Kebodohan. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa setiap tindakan yang dilakukannya itu tidak dapat mengikuti setiap perubahan yang terjadi dalam keluarganya dan akan menyebabkan dirinya ketinggalan jaman. Sesungguhnya, penyebab utama masalah ketinggalan ini, bukan karena kebodohan semata-mata, tetapi karena anggota keluarga lainnya selalu berusaha menyesuaikan diri setiap saat dan mereka tidak pernah berhenti untuk mengembangkan dirinya. Sedangkan hidup kita hanya begitu-begitu saja, karena kita sendiri tidak menginginkan adanya perubahan. Hal seperti inilah yang membuat kita tidak pernah akan mengalami peningkatan.Oleh karma itu,setiap keluarga harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.Namun tidak harus sampai terpengaru. Tipe orang seperti ini pun umumnya sangat mudah tersinggung dan sering merasa berkecil hati terhadap kakak atau adiknya, ayah atau ibunya, suami atau istrinya yang dianggap sudah tidak mencintainya lagi atau bahkan terhadap anaknya yang juga dikira tidak lagi menyayanginya. Hal inilah yang dapat memecah belah persatuan sebuah keluarga.
Untuk mengatasinya maka stiap pasangan harus melatih untuk mengendalikan dan mengembangkan diri sendiri tanpa terkecuali untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kebaikan setiap harinya.
 3. Masalah Kebosanan terhadap sesama
Masalah kebosanan antar sesama atau juga bisa disebut Penyakit bosan terhadap orang. Karena itu,hendaknya kita harus berhati-hati agar jangan sampai terkena penyakit bosan terhadap sesama terutama dengan keluarga sendiri. Jika salah satu anggota keluarga ada yang melakukan kesalahan, jangan sampai anggota keluarga yang lain merasa bosan untuk memperingati, mengajari dan menasehatinya karena akan menyebabkan kebajikkan kita dan kebajikkannya tidak akan ada peningkatan.
Perasaan bosan antar sesama ini merupakan pertanda timbulnya keretakan dalam keluarga, karena nantinya dapat mencapai satu titik dimana masing-masing pihak akan tinggal sendiri-sendiri tanpa saling peduli antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini akan menyebabkan timbulnya perselisihan dan perkelahian sampai kepada hal pembunuhan.Untuk menciptakan keutuhan keluarga sangat dibutuhkan sikap saling terbuka dan mengijinkan setiap anggota keluarga untuk memberikan pendapat, atau memberi peringatan kepada diri kita sejak dari awal jika seandainya terlihat sesuatu yang tidak benar pada diri kita.
Perbuatan kita yang tidak patut dilakukan dan tidak jelas tujuannya, harus segera dibicarakan, karena hal itu akan lebih baik daripada menunggu sampai tidak tahan lagi menghadapinya kemudian baru dibicarakan. Tindakan seperti itu sama halnya dengan menyatukan kedua gunung berapi untuk diledakkan bersamaan.
Untuk mengatasinya stiap pasangan harus sabar dalam 4 hal yaitu:
1.Bertahan dengan alam yang tidak menyenangkan hati kita
Sanggup bersabar dan bertahan dalam teriknya matahari, angin yang bertiup kencang, hujan deras yang dapat membinasakan, dan lain sebagainya.


2.Bertahan saat kondisi tubuh kita tidak baik
Mampu bersabar dan bertahan disaat tubuh kita tidak mendukung dalam melakukan sesuatu. Contohnya: disaat sakit, kita mampu bertahan tanpa membuat keonaran yang berlebihan.
 3. Bertahan untuk tidak menimbulkan keributan
Bersabar dengan penilaian orang lain Kita harus dapat menerima kenyataan bahwa kita sendiri masih mempunyai kesalahan yang pernah kita lakukan. Begitu banyak hal yang masih tidak sesuai dengan keinginan. Bilamana pekerjaan kita selesai dengan cepat dan telah diselesaikan dengan sangat berhati-hati dalam mengerjakannya, tetapi tetap saja akan ada masalah lain yang dapat mengkhawatirkan hati kita. Kita terkadang masih merasa tidak puas dengan apa yang telah kita kerjakan, dan itu merupakan kelemahan yang dapat membuat perilaku kita menjadi tidak baik, karena sesungguhnya masih banyak hal lain yang masih harus kita perhatikan.
Dengan kelemahan yang dimiliki oleh suami atau istri, dan anak-anak, ditambah lagi dengan kelemahan dari kita sendiri yang akan membuat timbulnya suatu perselisihan.
Oleh sebab itu kita harus dapat memahami bahwa sebaik apapun pasangan hidup kita, perselisihan masih dapat terjadi nantinya dan jika kita berpikir bahwa setelah bertengkar, tidak akan dapat lagi saling bertahan sebaiknya jangan menikah.Tetapi sebaliknya jika kita dapat menerima kenyataan dan merasa mampu bertahan dengan pasangan kita serta saudara-saudaranya untuk mendiskusikan masalah yang terjadi dan mencari jalan keluarnya agar dapat mempertahankan keluarganya, hal ini lebih baik daripada membicarakan tentang masalah lain.
 4.Mampu mengatasi Kilesa.
Kita harus mampu mengatasi keinginan buruk yang muncul dalam diri kita. Kilesa merupakan penyakit ganas yang bersemayam di dalam hati dari sejak kita dilahirkan. Ketika penyakit itu semakin memburuk, penyakit itu dapat memaksa dan mendesak kita untuk melakukan berbagai macam perbuatan yang tidak baik tanpa ada perasaan malu. Kilesa ini membuat kita untuk menanggung hukuman, penderitaan, menyalahkan diri sendiri, dan membuat kita duduk lemas menangisi kesalahan yang telah kita lakukan. Keberadaan kilesa ini dapat mempengaruhi perilaku baik yang ada dalam diri kita, oleh karena itu kita harus dapat mengatasi kilesa melalui 2 cara dibawah ini, yaitu:
  a.Menjaga perilaku buruk yang ada dalam diri kita agar tidak mempengaruhi orang lain.
Jika tidak sanggup mengikuti bagian ini, dalam hubungan suami istri malah akan saling menambah karma buruk yang nantinya dapat menyebabkan perselisihan dan perpecahan keluarga yang telah mereka bina.
  b.Menghindari diri dari 6 faktor penyebab keruntuhan, diantaranya meminum minuman keras, menikmati kehidupan malam, pergi ke tempat hiburan, senang berjudi, berteman dengan orang jahat, dan kemalasan untuk bekerja. Jika tidak sanggup mengikuti bagian ini masalah keuangan dalam keluarga akan menjadi berantakan, dan keutuhan keluarga pun dapat terpecah belah.
Bila setiap anggota keluarga melatih 2 cara ini dengan sabar, maka perilaku pribadi mereka akan menjadi lebih baik dan keuangan keluarga pun tidak akan bermasalah. Selain itu, kita hanya akan dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan tidak akan berkumpul dengan orang-orang yang bodoh, serta jalan menuju keruntuhan ini akan menjauh dari keluarga kita.
Oleh karena itu, sebuah keluarga akan memiliki pondasi yang kuat dan mantap jika anggota keluarga mempunyai Khanti sebagai perilaku ke-3 

 4. Masalah ke-egois-an
Masalah keegoisan juga dapat disebut penyakit ingin menang sendiri. Untuk mengatasinya maka masing masing harus mamiliki rasa berkorban (mura HATI).Pengorbanan, terdiri dari 3 kelompok :
  • Pengorbanan terhadap materi
  • Pengorbanan terhadap kenyamanan
  • Pengorbanan terhadap emosi yang negatif, tidak menyimpan emosi ini didalam pikiran anda. Ini sebagai persiapan dasar anda untuk bermeditasi.
Pengorbanan merupakan salah satu pedoman dasar yang sangat penting dalam menjaga suatu kehidupan, khususnya bagi sepasang suami istri. Sangatlah penting bagi mereka untuk memikirkan kebahagiaan keluarga lebih dahulu daripada kebahagiaan pribadi masing-masing. ">

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar